Sabtu, 20 Maret 2010

Singgih Kartono Penemu Radio Kayu dan Kehidupan (Inventor Wood Radio and life)

Singgih S Kartono, pembuat radio kayu dan kerajinan tangan, menganggap produknya sebagai bagian dari kehidupan berkelanjutan. Dengan konsep itulah, pembuat radio kayu di Kandangan, desa kecil di Temanggung, Jawa Tengah, ini mendapat pesanan 10.000 unit radio kayu senilai Rp 4,9 miliar dari rekanannya di Amerika Serikat.
Singgih adalah sosok yang mewakili berkembangnya kesadaran bahwa batas negara dan daya tarik kota besar makin tak relevan sebagai determinan berkembangnya industri kerajinan. Internet memungkinkan Singgih memasuki pasar dunia.
”Sayang, kapasitas produksi saya belum sebesar itu. Apalagi saya juga melayani permintaan dari Jepang yang sudah rutin sejak tiga tahun lalu. Saya minta waktu setahun untuk memenuhi pesanan itu (dari AS). Bagaimanapun saya senang, konsep saya diterima dan mendapat kepercayaan,” ujarnya, saat ditemui di ”pabrik”-nya, Piranti Works, di Desa Kandangan, Temanggung.
Ia menunjukkan tiga model radio dari kayu serta peralatan kantor dari kayu, seperti pembuka surat, penjepit kertas, stapler, dan kompas berlapis kayu.
”Radio kayu memang karya akhir saya ketika kuliah di seni rupa ITB. Saya hanya membuat rangka dan kemasan. Peralatan elektronik di dalamnya saya pakai dari Panasonic, yang memenuhi syarat ketat ramah lingkungan untuk pasar ekspor,” ujarnya.
Radio kayu yang diberi merek Magno itu, Rabu (8/10), diumumkan menjadi pemenang Good Design Award 2008 di Jepang untuk kategori Innovation/Pioneering & Experimental Design. Magno juga masuk nominasi untuk Grand Awards untuk Desain for Asia Award yang digelar di Hongkong.
Awalnya Singgih membeli radio Panasonic di toko, lalu dipreteli dan dimasukkan dalam radio kayu. ”Saya sering memborong radio di Temanggung, sampai bertemu Pak Rachmat Gobel (Preskom Panasonic Indonesia) pada pameran produksi ekspor. Sejak itu saya membeli langsung peralatan elektronik dari Panasonic, tidak lagi membeli radio di toko,” katanya.


Radio kayu buatan Singgih bermerek Magno lebih banyak diekspor ke Jepang, Jerman, dan AS. ”Saya kirim 300-400 unit radio ke Jepang setahun. Pasar di Jerman baru kami tembus. Harga per unit 49-56 dollar AS, tapi di Jepang dijual 17.500 yen dan di Jerman 160-240 euro. Di dalam negeri saya jual Rp 1,1 juta-Rp 1,3 juta per unit. Agak mahal, karena ini benda koleksi yang personal, bukan komoditas,” katanya.
Radio buatan Singgih itu bisa dilihat di berbagai media gadget atau website. Setelah pameran demi pameran dan berbagai lomba desain diikuti, pemasaran lewat internet ia lakukan dan contoh produk dikirim ke berbagai pihak selama setahun.
”Saya menang lomba desain di Seattle, AS, tahun 1997, lalu seorang desainer Jepang tertarik dan memasarkan produk ini sejak 2004. Sejak itulah produk Magno makin populer.”

Tanam pohon
Lalu apa urusan radio kayu dengan filosofi kehidupan berkelanjutan? ”Saya lahir dan dibesarkan di desa. Hutan dan kayu adalah lingkungan saya. Di desa, kayu dipakai untuk bahan bakar, bikin rumah, mainan, dan banyak hal dalam hidup. Setelah lulus kuliah, saya kembali ke desa, menghidupi desa dengan kayu dan menghidupkan kayu dari desa,” ujarnya.
Kerajinan kayu memberi nilai tambah signifikan bagi kayu. ”Sebatang kayu sengon sebagai kayu bakar hanya ekuivalen dengan 0,8 dollar AS. Tapi, sebagai produk kerajinan tangan, kayu yang sama bisa menghasilkan 1.000 dollar AS. Kita harus lebih cerdas memanfaatkan kayu,” ujarnya.
Ia mengalokasikan 10 persen dari hasil penjualan produk untuk dikembalikan kepada alam, lewat pembibitan dan penanaman pohon. Itulah mengapa dari 2.200 meter persegi tanah di pabriknya yang justru menghabiskan lahan adalah pembibitan ribuan sengon, mahoni, sonokeling, dan pinus.
”Bersama aktivis lingkungan, Mukidi, saya merintis penanaman pohon di kaki Gunung Sumbing yang gundul. Kami menanam 1.500-an pohon. Ada juga bantuan dari Panasonic,” ujarnya.
Ia juga bekerja sama dengan SMP Negeri 3 Bulu, Desa Wonotirto, di kaki Gunung Sumbing, menyebar kesadaran pelestarian alam dengan menanam pohon. ”Kami melibatkan murid menanam pohon di sekitar sekolah, di kaki gunung, di rumah-rumah. Anak-anak sadar akan pentingnya menyelamatkan hutan. Penggundulan hutan menyebabkan kelangkaan sumber air di kawasan ini,” ujar Wiyono, Kepala Sekolah SMP 3 Bulu.
Penggundulan hutan di Gunung Sumbing kian parah karena penanaman tembakau. ”Para petani percaya, tembakau akan berkualitas baik jika mendapat sinar matahari langsung. Jadi, semua pohon di kaki gunung ini ditebangi. Hutan menjadi gundul, rawan longsor, dan banyak mata air mengering.”
”Warga Desa Wonotirto harus mengambil air bersih dari sumber air yang jaraknya 6 kilometer. Itu sebabnya, kami membuat saluran air dari mata air dan membuat bak penampungan dekat sekolah. Tanpa bak itu, di sekolah ini tak ada setetes pun air bersih,” ujar Singgih.
Kerusakan lingkungan di Temanggung bisa diatasi jika ketergantungan warga pada penghidupan yang mengeksploitasi tanah dikurangi. ”Itu juga alasan saya mengembangkan kerajinan yang tak cuma efisien dalam penggunaan kayu sebagai bahan baku, tapi juga memanfaatkan sebanyak mungkin tenaga kerja,” ujarnya.
Dengan konsep itu, setiap orang tanpa keterampilan apa pun bisa ditampung sebagai tenaga kerja. ”Sejak hari pertama masuk kerja, ia harus bisa mengerjakan satu bagian proses produksi. Dalam seminggu ia sudah terampil dan dalam 3-4 bulan ia terampil mengerjakan semua proses produksi. Dalam setahun, kalau mau dan punya modal, ia bisa bikin pabrik sendiri. Kalau bisa mendapat order 2.500 dollar AS sampai 3.000 dollar AS sebulan, ia bisa mempekerjakan 10 tenaga kerja,” katanya.
Singgih dibantu 30 karyawan dengan kapasitas produksi 400-an unit radio per bulan. ”Saya ingin bisa menampung 1.000 warga Kandangan atau 25 persen populasi desa. Dalam 15-20 tahun ke depan, kami punya hutan yang rimbun lagi, sumber air melimpah, dan lingkungan hidup yang baik,” ujarnya optimistis.
Singgih mengawali usahanya pada tahun 2003. Ia bekerja di ruang tamu rumahnya dengan peralatan rakitan sendiri. Ia berkeliling pabrik kayu, membeli sisa kayu potongan untuk bahan baku. Dibantu istri dan empat pekerja, ia mulai membuat radio kayu. Kini, ia punya pabrik berukuran 15 meter x 18 meter yang dibangun dengan biaya Rp 100 juta.
Konsep hidup dan kerja inilah yang dijual. Orang tak hanya membeli radio kayu, tetapi mendukung konsep kehidupan berkelanjutan di Temanggung.

RADIO KAYU BUATAN INDONESIA RAIH PENGHARGAAN DESAIN DUNIA DI LONDON
London-Inggris. Indonesia sekarang patut untuk sedikit berbangga diri dimata dunia. Kenapa? Karena Radio kayu buatan perajin di kampung Kandangan, Temanggung berhasil meraih penghargaan tertinggi dalam desain produk di London.
Radio kayu Magno yang didesain dan diproduksi Singgih Susilo Kartono berhasil meraih penghargaan sangat prestisius Brit Insurance Design of the Year 2009. Penghargaan diserahkan dalam acara makan malam yang dispronsori stasiun televisi swasta Channel 4.
The Design Museum merupakan museum terkemuka di dunia yang memberikan penghargaan kepada desain kontemporer di berbagai negara dan katagori .
Singgih mengatakan di London Inggris pada hari Rabu, ia sendiri merasa mendapat suatu kejutan. “Saya tidak mengira apresiasi terhadap Magno Wooden radio ini cukup tinggi,” katanya lalu mengatakan radio kayu desainnya menggunakan pendekatan filosofi desain Asia.
Hal ini menurut Singgih sangat sejalan dengan prinsip-prinsip sustainable design.”
Radio kayu yang diberi merek Magno itu, sebelumnya juga diumumkan menjadi pemenang Good Design Award 2008 di Jepang untuk kategori Innovation/Pioneering & Experimental Design.
Magno juga masuk nominasi untuk Grand Awards untuk Design for Asia Award yang digelar di Hongkong.
Radio kayu buatan Singgih bermerek Magno lebih banyak diekspor ke Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat dengan jumlah 300-400 unit per tahun.
Penghargaan Brit Insurance Design diumumkan 18 Maret, yang pemenangnya dipilih oleh panel terdiri dari sembilan orang.
Selama 12 bulan dewan juri yang terdiri para desainer terkemuka memberikan penghargaan The Brit Insurance Design Awards 2009, di bidang arsitektur dimenangkan oleh New Oslo Opera House.
The Design Museum, yang dibentuk 25 tahun lalu memberikan penghargaan untuk katagori funiture diraih disain bangku MYTO, sedangkan katagori desain grafis diraih oleh poster yang mengambarkan Barack Obama.
Pemenang untuk desain produk kontemporer tersebut berasal dari berbagai negara seperti Indonesia, Colombia, USA, Norway dan Italia.
Ketujuh pemenang diundang ke London untuk mendapatkan penghargaan yang sangat prestisius, Brit Insurance Design of the Year 2009, dalam acara makan malam.
Dewan juri terdiri atas pakar desain terkemuka, di antaranya Alan Yentob, dan mereka mengaku sulit menentukan pemenang. Juri lainnya adalah desainer senior yang juga kurator arsitektur Paola Antonelli, desainer lingkungan dan pendidik Karen Blincoe, serta arsitek Peter Cook, penulis kritisi fasion Sarah Mower.
Produk pemenang desain dipamerkan di Design Museum, Shad Thames , London.
Dewan juri memuji konsep dan desain Singgih S Kartono yang mengunakan produk lokal dengan pengrajin dari daerah sekitar. “Enterprenur asal Indonesia memiliki ide kreatif di balik idenya membuat radio kayu yang membantu ekonomi daerah dengan mempekerjakan masyarakat di desa Kandangan,” kata dewan juri. Ternyata orang Indonesia sangat kreatif sekali ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar... Tapi tetap jaga sopan santun

 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Elanglikaytanjua