Mungkin belum semua orang kenal dengan Teknindo (Teknologi Indonesia). Tapi pasti banyak yang tahu dengan nama Juliana Pangestu yang dilahirkan di Ajibarang Banyumas. Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta yang melanglang buana dengan Bel-nya. Ya hanya dengan sebuah Bel, ia mampu meraih beberapa penghargaan tingkat Nasional dan dengan Bel pula ia mampu memecahkan Rekor MURI di Banyumas sebagai Kota pertama yang tepat waktu.
Di sini yang luar biasa. Ketepatan waktu itu yang menjadi prioritas utama demi menghilangkan tradisi orang Indonesia yang suka molor alias jam karet. dan untuk ini pula di munculkan suatu gerakan luar biasa "Gerakan Indonesia On Time"
Dengan bel otomatis yang tidak ada dipasaran ini, Omzet bisnisnya mampu mencapai Rp. 1 Miliar rupiah. sebuah nilai yang fantastis, yang kebanyakan selama ini lebih bisa diraih dengan korupsi oleh kebanyakan orang Indonesia dalam waktu yang singkat
Selain Rekor Muri, Prestasi yang bisa diraih, yang tak mampu digapai oleh kebanyakan anak muda Indonesia, meskipun sudah ber-S2 atau S3 adalah beberapa Prestasi sebagai Pemuda Pelopor untuk kategori teknologi tepat guna.
Namun kesuksesan yang diraih tidaklah hanya dengan membaca garis nasib dan mengharapkan mukjizat turun dari langit. Kerja keras yang tanpa batas, pantang menyerah dan tetap istiqomah ini ynag mampu mengantarkannya kepada kesuksesan yang nyata. Dan semua itu belumlah cukup bila tanpa ada doa dan restu orang tua. Semua yang tak dimiliki oleh kebanyakan pemuda tunas bangsa ini yang telah ia miliki oleh Juliana pangestu sejak kecil, bahkan sejak bangku SMA ia telah mempunyai mimpi yang mampu melampaui matahari meski hanya seorang anak Petani dan penjual nasi.
Sebelum Teknindo berkibar jaya, Juliana memulainya dengan membangun CV Metamorfose. dari sini Bel Otomatis Sekolah ini berkembang. Namun seperti banyak yang diketahui oleh kebanyakan orang, 'Setiap kesuksesan pasti di awali dengan kegagalan' Bisnis inipun beberapa kali mengalami kejatuhan, bahkan kejatuhan yang hebat yang di alami CV Metamorfose adalah ketika ketika Yogyakarta dan Jawa Tengah dilanda gempa. Usahanya hancur tanpa sisa, bahkan ia pernah harus tidur di Stasiun hanya demi satu tekad yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Semua kegagalan dan kejatuhan yang dia alami tidak ada yang mampu mematahkan semangat untuk kembali bangkit untuk memulai lagi. Hal inilah yang tidak banyak dimiliki oleh para pemuda kita yang telah hapal bermacam pepatah senada 'Dibalik kegagalan pasti ada kesuksesan'.
Idealismenya, BOS diciptakan sebagai alat bantu untuk menanamkan budaya tepat waktu, tapi ternyata tidak mudah untuk memasarkannya. "Maklum orang kita kan suka ikut-ikutan. Kalau barangnya belum dikenal, biar bagus tetap orang nggak mau melirik. Tapi begitu sudah terkenal, mereka berlomba-lomba membeli. Itu artinya orang kita sering membeli barang bukan karena butuh tapi karena gengsi," ujar Juliana.
Hal yang tidak dimiliki oleh bel yang lain adalah, bel ini bekerja secara otomatis, hanya sekali di seting jam yang di inginkan, maka setiap jam yang telah diseting itu bel akan berbunyi terus selama bel itu masih utuh. Umpama sebuah sekolah menginginkan jam masuk belajar pada jam 07.00 maka setiap jam itu akan berbunyi, tanpa harus dipencet seperti umumnya bel sekolah. Bel ini juga memiliki alarm dan tone serta lagu-lagu dari Negeri kita sendiri, bahkan lagu daerah, bahkan bila sebuah sekolah mempunyai lagu mars sendiri, maka lagu itu bisa di instalkan untuk bunyi suara Bel.
Ketika ditanyakan, Kenapa Bel-nya di singkat BOS (Bel Otomatis Sekolah) bukan Bel Sekolah Otomatis, maka jawabnya adalah karena yang otomatis adalah bel-nya bukan sekolahnya yang otomatis.
So... Siapa lagi yang akan muncul menjadi pemuda pelopor di Indonesia selanjutnya.
Namun kesuksesan yang diraih tidaklah hanya dengan membaca garis nasib dan mengharapkan mukjizat turun dari langit. Kerja keras yang tanpa batas, pantang menyerah dan tetap istiqomah ini ynag mampu mengantarkannya kepada kesuksesan yang nyata. Dan semua itu belumlah cukup bila tanpa ada doa dan restu orang tua. Semua yang tak dimiliki oleh kebanyakan pemuda tunas bangsa ini yang telah ia miliki oleh Juliana pangestu sejak kecil, bahkan sejak bangku SMA ia telah mempunyai mimpi yang mampu melampaui matahari meski hanya seorang anak Petani dan penjual nasi.
Sebelum Teknindo berkibar jaya, Juliana memulainya dengan membangun CV Metamorfose. dari sini Bel Otomatis Sekolah ini berkembang. Namun seperti banyak yang diketahui oleh kebanyakan orang, 'Setiap kesuksesan pasti di awali dengan kegagalan' Bisnis inipun beberapa kali mengalami kejatuhan, bahkan kejatuhan yang hebat yang di alami CV Metamorfose adalah ketika ketika Yogyakarta dan Jawa Tengah dilanda gempa. Usahanya hancur tanpa sisa, bahkan ia pernah harus tidur di Stasiun hanya demi satu tekad yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Semua kegagalan dan kejatuhan yang dia alami tidak ada yang mampu mematahkan semangat untuk kembali bangkit untuk memulai lagi. Hal inilah yang tidak banyak dimiliki oleh para pemuda kita yang telah hapal bermacam pepatah senada 'Dibalik kegagalan pasti ada kesuksesan'.
Idealismenya, BOS diciptakan sebagai alat bantu untuk menanamkan budaya tepat waktu, tapi ternyata tidak mudah untuk memasarkannya. "Maklum orang kita kan suka ikut-ikutan. Kalau barangnya belum dikenal, biar bagus tetap orang nggak mau melirik. Tapi begitu sudah terkenal, mereka berlomba-lomba membeli. Itu artinya orang kita sering membeli barang bukan karena butuh tapi karena gengsi," ujar Juliana.
Hal yang tidak dimiliki oleh bel yang lain adalah, bel ini bekerja secara otomatis, hanya sekali di seting jam yang di inginkan, maka setiap jam yang telah diseting itu bel akan berbunyi terus selama bel itu masih utuh. Umpama sebuah sekolah menginginkan jam masuk belajar pada jam 07.00 maka setiap jam itu akan berbunyi, tanpa harus dipencet seperti umumnya bel sekolah. Bel ini juga memiliki alarm dan tone serta lagu-lagu dari Negeri kita sendiri, bahkan lagu daerah, bahkan bila sebuah sekolah mempunyai lagu mars sendiri, maka lagu itu bisa di instalkan untuk bunyi suara Bel.
Ketika ditanyakan, Kenapa Bel-nya di singkat BOS (Bel Otomatis Sekolah) bukan Bel Sekolah Otomatis, maka jawabnya adalah karena yang otomatis adalah bel-nya bukan sekolahnya yang otomatis.
So... Siapa lagi yang akan muncul menjadi pemuda pelopor di Indonesia selanjutnya.










Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar... Tapi tetap jaga sopan santun