Bidadari yang kukagumi, tak bukan tulip,
mawar atau anggrek di pusat taman dunia
Bibirnya bagai cawan yang menyegarkan
Dan dia tertawa, barisan giginya laksana
mutiara
Dan dia bicara, kata-katanya bagai manikam
mengencang pada talinya
Matahari memancar dari jalinan rambutnya
yang hitam
Jari manisnya adalah pena bagi kanfas yang
kekal
Duhai kekasih yang berlimpahan cahaya
Yang menyebarkan di pintu-pintu gubug dan
gerbang istana
Kan kusambut engkau yang membuat buihku tersamar
Akulah reruntuhan dan engkaulah
pembangunnya
Akulah arus yang mengalirkan air ke asalnya
Dan engkaulah matahari yang membuat mekar
bunga-bunga dunia
Engkaulah pelangi kehidupan semadai
Aku akan terus mencintaimu, selama masih
ada ruh yang membuatku bernafas
Selama masih ada matahari yang terbit di
ufuk fajar
Dan aku akan terus mencintaimu, meski anak
panah dan batu menghujam menghancurkan kepalaku
Disampingmu adalah padang luas membentang
Didekatmu damba hati terlaksana nyata
Disisimu sebatang duri lebih baik dari
seribu kurma
Bersamamu lebih sejuk dari embun di padang Sahara
Tak kubutuhkan syurga, karena engkaulah
syurgaku
Tak kujauhi neraka, karena engkaulah
Kautsar yang menyejukkan dan memadamkan neraka
Apalah artinya keindahan syurga bagiku,
bila disana kau tiada
Langit yang kerontang dan bumi yang hampa,
terasa indah buatku tinggal bila ada aku di sampingmu
Seandainya Allah memerintahkan laki-laki
bersujud di hadapan wanita,
Maka akulah laki-laki pertama yang akan
bersujud di kakimu setelah sujud di kaki ibuku
Bersamamu, air mata menjadi mutiara
Butiran kerikil menjadi emas dan iblis
menjelma malaikat
Akulah orang miskin yang muncul dari kemah
Ibrahim
Yang merindukan engkau menjadi cakrawala
kehidupanku
Karena denganmu, hati tak lagi beku
Langit terkaca, 3 April 03










Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar... Tapi tetap jaga sopan santun