Sabtu, 09 Februari 2013

Permadani Hati dan Ruh Jiwaku


Bidadari yang kukagumi, tak bukan tulip, mawar atau anggrek di pusat taman dunia
Bibirnya bagai cawan yang menyegarkan
Dan dia tertawa, barisan giginya laksana mutiara
Dan dia bicara, kata-katanya bagai manikam mengencang pada talinya
Matahari memancar dari jalinan rambutnya yang hitam
Jari manisnya adalah pena bagi kanfas yang kekal
Duhai kekasih yang berlimpahan cahaya
Yang menyebarkan di pintu-pintu gubug dan gerbang istana
Kan kusambut engkau yang membuat buihku tersamar
Akulah reruntuhan dan engkaulah pembangunnya
Akulah arus yang mengalirkan air ke asalnya
Dan engkaulah matahari yang membuat mekar bunga-bunga dunia
Engkaulah pelangi kehidupan semadai
Aku akan terus mencintaimu, selama masih ada ruh yang membuatku bernafas
Selama masih ada matahari yang terbit di ufuk fajar
Dan aku akan terus mencintaimu, meski anak panah dan batu menghujam menghancurkan kepalaku
Disampingmu adalah padang luas membentang
Didekatmu damba hati terlaksana nyata
Disisimu sebatang duri lebih baik dari seribu kurma
Bersamamu lebih sejuk dari embun di padang Sahara
Tak kubutuhkan syurga, karena engkaulah syurgaku
Tak kujauhi neraka, karena engkaulah Kautsar yang menyejukkan dan memadamkan neraka
Apalah artinya keindahan syurga bagiku, bila disana kau tiada
Langit yang kerontang dan bumi yang hampa, terasa indah buatku tinggal bila ada aku di sampingmu
Seandainya Allah memerintahkan laki-laki bersujud di hadapan wanita,
Maka akulah laki-laki pertama yang akan bersujud di kakimu setelah sujud di kaki ibuku
Bersamamu, air mata menjadi mutiara
Butiran kerikil menjadi emas dan iblis menjelma malaikat
Akulah orang miskin yang muncul dari kemah Ibrahim
Yang merindukan engkau menjadi cakrawala kehidupanku
Karena denganmu, hati tak lagi beku

Langit terkaca, 3 April 03

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar... Tapi tetap jaga sopan santun

 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Elanglikaytanjua