Senin, 08 Maret 2010

PERIHAL HARI JADI KABUPATEN TEMANGGUNG

       Hari jadi kota Temanggung yang jatuh pada tanggal 10 November dan bertepatan dengan hari Pahlawan sepertinya mengurangi greget karena dua peringatan yang nuansanya berbeda namun jatuh pada hari yang sama.
       Dilihat dari beberapa peninggalan bersejarah dan mencontoh peringatan hari jadi kota Semarang dan DKI Jakarta sebaiknya hari jadi kota Temanggung dirubah. Mereka tidak mengambil tanggal dan bulan berdasarkan ketentuan kabupaten / kotamadya ataupun propinsi, sebab istilah kabupaten dan seterusnya merupakan warisan penjajahan Hindia Belanda.Sepengetahuan kami, dari Kerajaan Demak dan sebelumnya tidak ada istilah kabupaten.
       Kembali kepada pilihan tanggal dan bulan, menurut catatan, sejarah; berdasarkan prasasti Wanua Jengah.III tahun 908M yang ditemukan Penduduk dusun Dunglo desa Gandulan, Kecamatan Kaloran pada bulan November 1983 (kini tersinimpan museum purbakala), Temanggung semula adalah wilayah "kademangan" yang gemah ripah loh jinawi. Dimana di salah satu wilayahnya yaitu Pikatan didirikan bihara agama Hindu oleh adik raja
       Mataram Kuna pada waktu itu, yaitu Rahyangta I Hara, sedang rajanya adalah Rahyangta ri Mdang, adalah Sanjaya yang naik tahta tahun 717M (rnenurut prasasti Mantyasih). Oleh pewaris tahta, yaitu Rake Panangkaran yang naik tahta tanggal 27 November 746M, bihara Pikatan memperoleh bengkok di Sawah Sima. Jadi bila dikaitkan dengan prasasti Gandasuli ada gambaran yang jelas bahwa dari Kecamatan Temanggung memanjang ke barat sampai Kecamatan Bulu dan seterusnya adalah wilayah yang subur dan tenteram (ditandai tempat bihara Pikatan).
       Situasi seperti inilah kiranya yang lebih bermakna untuk diresapi dan dihayati oleh masyarakatTemanggung. Kita tahu dari membaca sejarah bahwa suasana pada 10 November 1834, saat ditetapkannya Kabupaten Temanggung, suasananya penuh dengan ketegangan karena Perang Diponegoro dengan Belanda. Kebetulan peristiwa10 November 1945 juga penuh dengan.ketegangan.
       Berdasarkan sejarah Mataram di Temanggung:
  1. Ngadirejo" dari kata "ngadi" dan “raja". Dari adi raja di derah ini ditemukan dua prasasti, yaitu prasasti Talang Air dan prasasti Canggal. Dalam prasasti Canggal. termuat nama Raja Sanjaya yang memerintah dengan baik dan bijaksana. Rakyatnya aman dan tonteram, kerta raharja. Atau, Raja Sanjaya adalah raja yang baik, yang dalam bahasa Jawa Kuna disebut Adi Raja.
  2. Karena di Mataram belum ada sekolalan, yang ada di Nalanda, maka penulis pasasti pastilah raja sendiri atau keluarg raja. Hal ini membuktikan bahwa Raja Sanjaya bermukim di daerah Ngadirejo.
  3. Ditemukan beberapa guci Cina berisi abu jenazah dan beras (semasa Bupati Sri Soebagyo). Karenanya pemilik guci dan abu jenazah pastilah keluarga raja.
  4. Ditemukan nama desa Kademangan. Menunjukkan Demang adalah pejabat tertingg pembantu Rakai.
       Pengganti Rakai Sanjaya tanggal 27 November 746, Rakai Panangkaran naik tahta, dan bertahta selama kurang lebih 38 tahun. Dalam legenda Angling Darma, keraton diperkirakan di daerah Kedu (desa Bojonegoro), di sana masih ada peninggalan (reruntuhan). Di daerah Kedu juga ditemukan desa Kademangan.
       Pengganti Rakai Panangkaran adalah Rakai Panunggalan, yang naik tahta pada 1 April 734 hingga 28 Maret 803M.
       Bertahta di Panaraban yang sekarang menjadi Parakan. Di sini juga ditemukan desa Kademangan, dan abu jenazah di Pakurejo daerah Bulu.
       Pengganti Panunggalan adalah Rakai Warak, yang mungkin di Tembarak. Di sini ditemukan reruntuhan di sekitar masjid Monggoro dan reruntuhan candi, juga di desa Kademangan.
       Pengganti Rakai Warak adalah Rakai Garung, yang memerintah sejak 24 Januari 828 hingga 22 Februari 847. Raja ini ahli bangunan candi dan ilmu falak.
       Dia buat pranata mangsa yang sampai sekarang masih digunakan. Karena kepandaiannya hingga raja Sriwijaya ingin menggunakannya untuk membuat candi, Namun Rakai Garung tidak mau, walau diancan demikian muncul Ki Ageng Makukuhan, prasasti Gandasuli.
       Pengganti Rakai Garung adalah Rakai Pikatan. Rakai ini bermukim di Temanggung. Di sini ditemukan prasasti Tlasri, juga Wanua Tengah III. Di samping itu banyak reruntuhan benda kuno seperti lumpang yoni, dan arca-arca yang tersebar di daerah Temanggung. Di sini pun terdapat desa Demangan.
       Dari pengalaman yang menimpa Rakai Garung, maka Raja Pikatan ingin mempersatukan kerajaan Mataram dan Sailendra.
       Adapun terjadinya Temanggung dapat kami uraikan sebagai berikut.
  1. Dalam prasasti Wanua Tengah III (dimuat dalam berkala Arkeologi tahun 1994 halaman 87), Rakai Pikatan dinyatakan meninggal pada tanggal 27 Mei 855M.
  2. Dalam prasasti Siwagrha (terjemahan Casparis, 1956, hal. 288), pada tahun 856 Rakai Pikatan mengundurkan diri.
  3. Dalam prasasti Nalanda tahun 860 (Casparis, 1956, hal. 289-294), Balaputra Dewa dikalahkan dalam perang oleh Rakai Pikatan dan Kayuwangi.
  4. Dalam prasasti Wanua Tengah III (dimuat dalam berkala Arkeologi tahun 1994 halaman 89), Rakai Kayuwangi naik tahta pada tanggal 27 Mei 855M.
  5. Dalam buku karangan I Wayan Badrika halaman 154, Pramudhawardani kawin dengan Rakai Pikatan, naik tahta tahun 856M. Balaputra Dewa dikalahkan oleh Pramudhawardani, dibantu oleh Rakai Pikatan (prasasti Ratu Baka tahun 856M).
       Kalau kita amati isi prasasti-prasasti dan buku karangan I Wayan Badrika di atas dapat kita simpulkan Rakai Pikatan pada tanggal 27 Mei 855M:
  1. Mengangkat putranya, Kayuwangi.
  2. Mengundurkan diri dan meninggalkan Mataram untuk kawin dengan Pramudhawardani.
  3. Berperang melawan Balaputra Dewa bersama putranya, Kayuwangi.
       Kalau Rakai Pikatan dan Kayuwangi berperang melawan Balaputra Dewa (Sailendra) di gunung Boko, maka Mataram harus ada yang mengurusi. Karena pangkat yang paling tinggi waktu itu demang, maka dipilih yang paling dekat dengan raja. Keinudian diangkat menjadi Demang Gung. Tempatnya menjadi Ndemanggung, mudahnya menjadi Temanggung.
       Adapun pengangkatan Ki Demang bersamaan dengan Rakai Pikatan meninggalkan Mataram bersama putranya, Kayuwangi, pada tanggal 27 Mei 855M. Untuk ini kami usulkan agar hari jadi Temanggung pada tanggal 27 Mei. Perlu kami tambahkan di sini bahwa di Temanggung ada beberapa demangan, antara lain:
  1. Demangan Ngadirejo mungkin dari kata Adiraja.
  2. Demangan Parakan mungkin dari kata Panaraban.
  3. Demangan Kedu
  4. Demangan Temanggung
  5. Demangan Tembarak mungkin dari kata Demang Warak
       Dari buku sejarah karangan I Wayan Badrika disebutkan bahwa Rakai Pikatan selaku Raja Mataram Kuna berkeinginan menguasai wilayah Jawa Tengah. Namun untuk merebut kekuasaan dari Raja Balaputradewa selaku penguasa kerajaan Sailendra, tidak berani. Untuk rnencapai maksud tersebut Rakai Pikatan membat strategi dengan mengawini Dyah Pramudhawardani, kakak Raja Balaputradewa.
       Selain itu, Rakai Pikatan Juga rnenghimpun segala kekuatah yang ada di wilayahnya, baik prajurit, senapati. semua biaya yang dihimpun melalui upeti dari para demang. Yang diberi kepercayaan untuk mengumpulkan upeti adalah demang Gong yang paling luas wilayahnya. Dari nama demang dan wilayah kademangan kemudian muncul nama Ndemanggung yang akhirnya berubah menjadi nama Temanggung.



       Untuk mencapai yang diinginkannya maka Rakai Pikatan menghimpun balatentara dan berangkat ke kerajaan Sailendra pada tanggal 27 Mei 855M. Tanggal inilah kiranya yang lebih tepat untuk dijadikan panutan rnasyarakat Temanggung memperingati had jadinya.
       Sebagai pendukung data bahwa Temanggung adalah sebuah kota telah memiliki tingkat budaya yang cukup memadai dibuktikan dengan peninggalan yang ada di Temanggung, antara lain:
  1. Di wilayah Kelurahan Butuh ditemukan Batu Dakon dan Batu Lumpang kuno di wilayah makam (Saksi Sdr. G. Dahman Butuh).
  2. Di wilayah Kelurahan Jampiroso ditemukan batu candi yang berada di sebelah barat makam Ki Ageng Jampi. Di dekat rumah Sdr. Sulistya ditemukan 13 buah batu candi
  3. Di tanah persawahan Sebalong masih di wilayah Kelurahan Jampiroso pernah ditemukan Lembu Humaran, batu lumpang, dan batu bata besar-besar. Saksinya mantan Kepala Kelurahan Jampiroso.
  4. Di Kelurahan Kertosari ada dukuhan yang bernama Ngreco, yang berarti pernah ada arcanya.
  5. Di Kelurahan Banyuurip, ada pekuburan Candi yang memberi anti bahwa disitu pernah ada candi. Saksi Sdr. V Lasiman
  6. Di wilayah Temanggung I, batu nisan makam Ki Ageng Padang berasal dari purbakala. Selanjutnya di kampung Brojolan juga pernah ditemukan Arca Saksi Sdr. Hardjosutrisno
       Demikian apa yang kami ketahui, Karena menyadari banyak kekurang sempurnaan dari data penduduk yang kami ketengahkan disini, mudah-mudahan ada yang dapat, menyempurnakan lagi.

HARI JADI KABUPATEN TEMANGGUNG

       November ini Temanggung berusia 173 Tahun. Terbilang muda bagi sebuah kota. Tetapi tidak dengan tuntutan prestasi. Tengoklah ke belakang di era kepemimpinan Drs. Masjchun Sofwan, SH. Kabupaten Temanggung penuh dengan prestasi. Dari kota kecil terbersih, penghasil vanili bermutu, sampai produsen tembakau berkualitas tinggi. Bagaimana dengan sekarang? Saat Temanggung dipimpin Bupati Totok Ary Prabowo, terbesit harapan besar dipundaknya, selain muda, lulusan master administrsi dari Australia ini mengusung Program Gerbang Dusunku, rasanya Temanggung akan kembali pada masa keemasannya dengan mudah.
       Kenyataannya? Carut marut yang terjadi. Saat ini Temanggung dipimpin Bupati H. Muhammad Irfan. Sebagai pemimpin tanpa pendamping (tanpa wakil), tentunya tidak mudah baginya untuk menyamakan misi visi kepada semua komponen di Temanggung ini. Tidak bisa tidak, ia harus berjuang karena ialah saat ini nahkodanya.
       Bagaimana dengan dunia pendidikan di Temanggung saat ini? Hasil penelitian Bappeda tahun 2005, cukup mengejutkan. Tingkat drop out anak usia wajib belajar sembilan tahun sangat tinggi. Mengapa begitu? Alasan utama masalah ekonomi.
       Kemiskinan di Kabupaten Temanggung mencapai 37 persen dari total penduduk Temanggung, atau sebanyak 55.878 KK cenderung disebabkan karena struktural, dimana penduduk miskin sebagian besar hidup di desa-desa sampai dengan dusun yang jauh dari pusat perekonomian maupun fasilitas umum lainnya seperti pelayanan pendidikan dan kesehatan. Sebagian besar dari mereka atau lebih dari 87 pensen adalah para buruh tani dan selebihnya adalah tenaga kasar serabutan seperti kuli bangunan, tukang becak, bakul pasar, pedagang kaki lima, buruh pabrik dan lain sebagainya.
       Jika dilihat dari prespektif pendidikan, kenyataan menunjukkan bahwa hampir semua orang miskin adalah berpendidikan rendah, lulus SD atau bahkan tidak lulus SD, lulus SLTP dan sebagian lulus SLTA umum tanpa bekal ketrampilan (skill) yang cukup. Pendidikan merupakan salah satu mata rantai atau sebab akibat dari lingkaran kemiskinan (cyrcle of proverty).
       Pendidikan yang rendah menyebabkan pengetahuan dan keterampilan rendah, keterampilan rendah menyebabkan sulit mendapatkan pekerjaan yang layak yang berakibat rendahnya pendapatan, pendapatan rendah menyebabkan tidak dapat bersekolah dan seterusnya.
       Tapi ironisnya, dalam kondisi Temanggung yang seperti itu, biaya pendidikan justru makin tidak terjangkau masyarakat miskin. Mereka tetap saja termarjinalkan dan makin memperparah keadaan ekonomi-sosial mereka.
       Kenyataan di lapangan sejak tahun 2001 hingga 2005 petani tembakau sebegai soko guru perekonomian kita terus terpuruk, tidak saja akibat gagal panen. Selain kualitas tembakau yang rendah, harga juga dipermainkan tengkulak. Di samping itu adanya kenaikan BBM yang selangit membuat dunia usaha terpuruk, daya beli masyarakat menjadi rendah. Masyarakai miskin seperti kata pepatah 'Sudah Jatuh Tertimpa Tangga'
       Untuk sekolah, berat di ongkos Terutama biaya harian utuk transportasi dan jajan. Selain itu motivasi belajar anak yang rendah, peran masyarakat dalam pendidikan juga kurang maksimal.
       Purwanto SPd, Kepala SD Negeri Joho Kecamatan Temanggung ketika ditemui LONTAR, di sela-sela Pelatihan Penulisan Karya Tulis Ilmiah di SMK Negeri 2 Temangung dua pekan lalu, mengatakan, saat ini perlu diperhatikan agar pendidikan di Temanggung bisa maju, adalah menumbuhkan budaya optimis kepada orang tua siswa dalam menghadapi perubahan-perubahan di dunia pendidikan. Misalnya, adanya kurikulum baru (KTSP), UN Sekolah Dasar. Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Temanggung agar memperhatikan sekolah-sekolah yang siswanya sedikit, serta tidak pilih kasih dalam memberikan bantuan tetapi berdasarkan skala prioritas sehingga terjadi penyebaran dlam mendapatkan bantuan, katanya.
       Lain halnya dengan Sri Sakdiati, SPd Kepala SD Wanutengah Kecamatan Bulu ini menyoroti banyaknya lulusan SD yang tidak melanjutkan ke jenjang SMP, karena biaya masuk SMP yang tinggi. “Saya berharap agar anggaran pendidikan bisa ditingkatkan sesuai dengan amanat UUD 45, yaitu dua puluh persen” imbuhhya di sela-sela pelatihan.
       Sementara itu Susanti SPd Iebih menyoroti ketidak adilan pembagian kesra dari Pemda. Guru bantu di SMP Negeri 3 Temanggung ini menyatakan, teman-teman guru PNS bisa menikmati Kesra, sedangkan guru bantu tidak. “Padahal kita kan juga sama-sama memintarkan anak-anak di Temanggung” katanya dengan nada getir.
       Dunia pendidikan, hanya salah satu persoalan yang melilit kita, disamping berbagai persoalan lain seperti masalah lingkungan, kesehatan, korupsi dan premanisme. Namun apapun opini masyarakat terhadap pendidikan kita, yang jelas di ulang tahun yang ke 173 ini, pendidikan di Temanggung harus selangkah lebih maju dan menjadi sekala prioritas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar... Tapi tetap jaga sopan santun

 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Elanglikaytanjua